SEBATANG YANG PATAH
Akar-akar cinta yang mendekap tanah dengan kuat…
Daun-daun kehidupan yang berguguran…
Batang-batang perasaan di hati yang telah patah…
Putik-putik pun telah terhempas angin lebih dahulu…
Akar-akar cinta yang masih mendekap tanah dengan kuat…
Kini menghidupkan kembali daun-daun kehidupan yang telah berguguran,
Menguatkan kembali batang-batang perasaanku yang dulu pernah patah.
Menumbuhkan putik-putik yang telah tertiup angin, dengan lembut.
Seiring berjalannya sang waktu.
Buah-buah keindahan kini telah tumbuh dengan lebatnya…
Dan seiring berjalannya waktu pula.
Tumbuhlah benih-benih baru yang dengan cepat meranggas menjadi pohon kecil.
Waktu terus berlalu, benih-benih itu kini telah menjadi sebatang pohon.
Yang menumbuhkan akar-akar kuat mendekap tanah.
Yang membentuk batang-batang yang kokoh.
Yang menumbuhkan kembali putik-putik lembut nan indah…
Hari demi hari, terus dan terus berlalu.
Benih itu telah menjadi sebatang pohon besar .
Penuh dengan berbagi keindahan…
Dengan pucuk-pucuk, putik-putik, dan ranting serta dahan yang tinggi menjulang mencoba mencakar luasnya sang langit.
Disaat deru sang angin kembali menerpa,
Menghempas jutaan butiran debu, yang terombang-ambing tak berdaya.
Menerjang putik-putik, pucuk-pucuk, ranting serta dahan yang tinggi.
Dengan sekejap mata menumbangkan pohon itu…
Binasalah apa saja bagian yang ada padanya.
Seperti sebuah perasaan yang dengan mudah di hancurkan hingga menjadi potongan-potongan tak berarti.
Dan kini sebut saja aku:
“SEBATANG YANG PATAH…..”
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.


















































